Kamis, 18 September 2008

Orang Bengkalis Bikin Colok Sambut Tujuh Likur

Menyambut pekan terakhir di bulan Ramadan atau "tujuh likur", masyarakat yang bermukim di kawasan pesisir Riau, seperti di Pulau Bengkalis, Kabupaten Bengkalis menggelar tradisi "colok" (pelita) mulai dari tanggal 27 Ramadan hingga malam takbiran.

"Tradisi colok di malam tujuh likur ini telah berlangsung lama. Kegiatan ini wujud dari rasa sayang masyarakat melepaskan bulan Ramadhan," kata Ketua Riau Tourism Board (RTB), Fadlah Sulaiman di Pekanbaru, Sabtu.

Fadlah Sulaiman mengatakan, tradisi masyarakat di malam-malam terakhir Ramadhan itu merupakan salah satu agenda wisata Riau bahkan tradsisi yang hidup ditengah masyarakat itu tiap tahun diperlombakan oleh pemerintah daerah. "Di Pulau Bengkalis, tradisi colok ini sangat hidup. Tiga malam menjelang berakhirnya bulan puasa yang dimulai pada malam ke 27, Pulau Bengkalis sangat semarak karena jutaan colok menghias pulau," ungkap mantan Bupati Bengkalis ini.

Sementara itu informasi yang diterima ANTARA, kaum muda di Bengkalis sibuk menyiapkan colok yang akan dimulai pada tanggal 27 September malam. "Saat ini kami sedang bersiap-siap membuat colok," ujar Ketua Panitia Colok Kampung Damon, Pulau Bengkalis, Dona Fathonah.

Membuat colok yang dimaksudnya tidak hanya mengumpulkan kaleng atau botol bekas minuman ringan yang dijadikan pelita bersumbu tetapi juga menyiapkan gapura di setiap persimpangan jalan di daerahnya. Colok yang jumlahnya sangat banyak itu kemudian ditempatkan pada gapura.

Motif gapura biasanya mengambarkan bangunan masjid atau kaligrafi Alquran dan biasanya satu gapura terdapat ratusan colok yang ditempatkan sesuai dengan bentuk gapura.

Selain ditempatkan pada gapura, colok juga ditempatkan disepanjang pinggiran jalan bahkan colok juga digantungkan pada tali kawat yang melintang diatas badan jalan.

Ketika disinggung perihal bahan bakar minyak tanah yang akan digunakan, Donna mengakui harga minyak tanah di daerahnya cukup mahal berkisar Rp3.500 - Rp6.000/liter namun tidak menjadi halangan kegiatan colok diadakan. "Kami mendapatkan minyak dari iuran masyarakat,"

Selasa, 16 September 2008

Arsitektur di Era Kekhalifahan Umayyah

89 tahun berkuasa, Dinasti Umayyah (661-750) mampu memperluas wilayah kekuasaan Islam. Kekhalifahan Umayyah yang berpusat di Damaskus, Suriah, mengatur wilayah kekuasaannya hingga ke Tashken di wilayah timur dan hingga wilayah pegunungan Pyrenee di sebelah barat. Kekhalifahan Umayyah sudah mampu mengatur pemerintahan dan perdagangan.

Ditopang perekonomian yang kuat, Dinasti Umayyah telah mampu melakukan pembangunan. Di era inilah mulai dibangun Masjid Kubah Batu ( Dome of Rock) di Yerusalem dan Masjid Agung di Damaskus yang dikenal dengan nama Masjid Agung Umayyah. Periode kejayaan Umayyah ditandai dengan pencapaian dalam bidang arsitektur. Dikuasainya wilayah Irak, Iran, dan Suriah oleh umat Islam berkontribusi dalam perkembangan seni dan arsitektur.

Dinasti Umayyah telah memberi peran dan pengaruh yang besar dalam arsitektur Masjid. Pada 673 M, Muawiyahpemimpin pertama Dinasti Umayyah--mulai memperkenalkan menara. Menara masjid pertama dibangun pada Masjid Amr Ibn-Al-Ash. Di masjid itu, ia membangun empat menara sebagai tempat untuk mengumandangkan adzan.

Dalam proses pembangunan Masjid Agung Umayyah, dinasti ini juga mulai memperkenalkan sejumlah teknik arstitektur baru khas Islam. Salah satunya adalah lengkungan pada arsitektur masjid. Pada era kekuasaan Dinasti Umayyah yang ditandai dengan kemakmuran juga diperkenalkan elemen-elemen fungsional dan struktural utama dalam arsitektur masjid, seperti menara, mihrab, maksurah, dan kubah.

Seni dekorasi juga mulai berkembang menjadi seni Islami melalui penggunaan kalgrafi dengan tulisan indah kufi. Kaca mozaik juga mulai diperkenalkan pada masa itu. Setelah ditumbangkan Dinasti Abbasiyah pada 750 M, Dinasti Umayyah juga turut membangun sederet karya arsitektur monumental di Spanyol. Hingga kini, karya arsitektur peninggalan Dinasti Umayyah masih mengagumkan.mr-republika

Dari masa ke masa


Sejak dibangun pada 705 M, Masjid Agung Umayyah dari masa ke masa mengalami banyak perubahan dan modifikasi. Terlebih, dunia Islam selalu mengalami perubahan kekuasaan dari satu dinasti ke dinasti lainnya. Berikut perjalannya dari masa ke masa:

Tahun 705 M: Proses pembangunan Masjid Agung Umayyah dimulai. Para arsitektur menyatakan, masjid ini murni hasil karya umat Islam dan tak meniru arsitektur Bizantium, namun terinspirasi gaya arsitektur Persia. Dibangun dengan dana yang dikumpulkan dari pajak tanah pertanian.

Tahun 714 M: Masjid Agung Umayyah selesai dibangun di atas lahan dengan panjang 157 meter dan lebar 100 meter. Pembangunannya membutuhkan waktu hampir satu dasawarsa.

Tahun 715 M: Khalifah Al-Walid I membangun sebuah maksurah yang membungkus mihrab (ceruk) dan mimbar.

Tahun 778 M: Khalifah Al-Mahdi membangun Baitul Mal (Kas Negara) di areal Masjid Agung Umayyah.

Tahun 1068-1069 M: Masjid Agung Umayyah hancur dilalap si jago merah, kecuali bagian temboknya.

Tahun 1082-1083 M: Masjid itu lalu dibangun kembali oleh pemimpin Dinasti Seljuk Tutuch dan Perdana Menteri Malik Shah.

Tahun 1166 M: Kebakaran kedua kembali terjadi menghancurkan gerbang bagian timur (Bab Jyrun).

Tahun 1174 M: Kembali terjadi kebakaran yang merusak menara bagian utara (Midhanat al-Arus).

Tahun 1202 M: Gempa bumi merusak bagian Masjid Umayyah.

Tahun 1206 M: Lantai halaman diperbaiki.

Tahun 1214 M: Lantai masjid ditutup dengan marmer.

Tahun 1216 M: Perbaikan kubah dilakukan.

Tahun 1247 M: Menara sebelah tenggara hancur dilalap si jago merah dan diperbaiki dua tahun kemudian.

Tahun 1326-1328 M: Dinding bagian barat Masjid dibangun kembali dan dihiasi dengan mozaik.

Tahun 1401 M: Dinasti Mughal menginvansi Damaskus. Halaman masjid dijadikan tempat penyimpanan senjata berat. Seluruh masjid dijadikan barak tentara.

Tahun 1479 M: Kebakaran kembali terjadi dan menghancurkan menara sebelah barat, Bab Al-Ziyada, dan Bab Al-Barid.

Abad ke-17 M : Menara Nabi Isa AS dibangun kembali.

Tahun 1904-1910 M: Masjid Agung Umayyah kembali dibangun dengan megah. Tiang-tiang dan kubah diganti.

Masjid Agung Umayyah Simbol Kejayaan Peradaban Islam

Masjid Agung Umayyah memiliki peran yang amat penting dalam sejarah peradaban Islam. Secara historis dan budaya, masjid yang berdiri megah di jantung kota tua Damaskus, Suriah, itu merupakan salah satu tempat ibadah umat Islam yang paling tua. Inilah salah satu karya fenomenal dalam bidang arsitektur di era kekhalifahan yang menjadi simbol kejayaan dan kebanggaan peradaban Islam.

Arsitekturnya telah memberi pengaruh bagi seni bina masjid di seluruh dunia. Masjid Agung Umayyah yang diyakini sebagai salah satu tempat suci bagi kaum Muslimin, itu merupakan tempat lahirnya sejumlah elemen penting dalam dunia arsitektur Islam. Dari masjid inilah, arsitektur Islam mulai mengenal lengkungan ( horseshoe arch), menara segi empat, dan maksurah.

Berdirinya Masjid Agung Umayyah berawal dari kedatangan Islam di bawah pimpinan Khalid bin Al-Walid di Suriah pada 635 M. Dengan menjunjung semangat toleransi, umat Islam yang menguasai Damaskus memberi kebebasan bagi penganut Nasrani untuk beribadah. Kedua pemeluk agama samawi ini lalu bersepakat untuk membagi dua gereja St John.

Umat Islam beribadah di sebelah timur dan di bagian barat digunakan penganut Kristen sebagai gereja. Tempat ibadah kedua agama ini hanya dipisahkan dinding tembok. Berbilang waktu, jumlah umat Islam di Damaskus terus bertambah banyak. Sehingga, bangunan gereja yang dibagi dua itu tak lagi mampu menampung jumlah umat Islam yang kian bertambah banyak.

Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik (705-715 M) lalu memutuskan untuk membangun masjid yang megah. Umat Islam pun segera bernegoisasi dengan komunitas Kristen Damaskus. Lewat pembicaraan yang alot, akhirnya kedua belah pihak mencapai kata sepakat. Khalifah Al-Walid memutuskan untuk membeli lahan dan mulai membangun masjid yang sangat megah.

Sarjana Barat kerap menuding pembangunan Masjid Agung Umayyah sebagai bentuk intoleransi umat Islam. Benarkah? Tudingan itu ternyata salah kaprah. Sebuah studi yang dilakukan Golvyn L (1971) dalam bukunya berjudul, Art religieux des Umayyades de Syrie, membuktikan tuduhan itu tak benar dan tak berdasar. Golvyn berhasil meneliti teks yang ditulis Uskup Arculfe.

Dalam teks itu, sang uskup menyatakan kaum Muslimin memiliki masjid sendiri dan gereja St John dibangun umat Kristen di bawah pemerintahan Islam. Penjelasan Uskup Arculfe itu juga didukung dengan sejumlah teks. "Jadi, Masjid Agung Umayyah tak dibangun di atas reruntuhan gereja St John sebagaimana yang dituduhkan sarjana Barat," papar Golvyn.

Proses pembangunan Masjid Agung Umayyah dimulai pada 87 H/705 M dan selesai pada 96 H/714 M. Biaya pembangunannya berasal dari pajak lahan pertanian ( kharaj) yang dipungut pemerintahan Dinasti Umayyah. Pembangunan masjid terbesar pertama di abad ke-8 M itu melibatkan para seniman dan tukang bangunan dari berbagai negeri, seperti Persia, India, Afrika Utara, Mesir, dan Bizantium.

Sejarawan Al-Muqadassi menuturkan, Raja Bizantium turut menawarkan para tukang bangunan dan seniman serta bahan bangunan untuk membantu proses pembangunan Masjid Agung Umayyah. Sehingga, kemudian muncul anggapan bahwa gaya arsitektur masjid itu meniru seni bina bangunan Bizantium. Namun, anggapan itu dibantah oleh aristektur Barat KAC Creswell dalam bukunya, Early Muslim Architecture, dan Strzygowski (1930).

"Masjid Agung Umayyah adalah murni hasil kerja umat Islam yang terinspirasi oleh gaya Persia," papar kedua arsitektur kenamaan itu. Pada awalnya, masjid yang besar dan megah itu berdiri di atas lahan dengan panjang 157 meter dan lebar 100 meter serta terdiri atas dua bagian utama. Bagian halaman menempati hampir separuh area masjid dan dikelilingi serambi yang melengkung.

Bangunan masjid itu tampak megah dengan ditutupi kubah yang indah. Pada masjid itu juga terdapat tempat khusus untuk menampung zakat atau pendapatan negara yang bernama baitul mal. Bangunan baitul mal yang berada di sisi halaman sebelah barat itu pertama kali didirikan oleh Khalifah Al-Mahdi pada 778 M. Halaman masjid yang berbentuk persegi empat dibiarkan terbuka karena terinspirasi Masjid Nabi Muhammad SAW di Madinah.

Masjid ini dihiasi dengan tiga menara yang menjulang di langit Damaskus. Tiga menara yang menemani bangunan masjid yang megah itu terbilang unik. Sebab, biasanya jumlah menara yang ada pada masjid jumlahnya satu, dua, empat, atau tujuh seperti yang terdapat di Al-Haram As-Sharif (Kaabah).

Bentuk menaranya yang segi empat menandakan masjid inilah yang pertama kali menggunakan minaret. Terdapat tiga pintu utama untuk memasuki area Masjid Agung Umayyah. Pintu utama pertama terdapat di tengah tembok sebelah utara. Dua pintu lainnya terdapat di sisi tembok sebelah timur (bab jayru) dan sebelah barat (bab ziyada).

Di era kekhalifahan Islam, Masjid Agung Umayyah menjadi pusat kegiatan umat. Dari masjid inilah peradaban Islam terus berkembang luas hingga mencapai benua Asia, Afrika, dan Eropa. Pada masa itu, masjid tak hanya menjadi tempat untuk beribadah, namun juga menjadi pusat aktivitas ilmu pengetahuan.

Masjid Agung Umayyah makin bertambah istimewa karena berdiri di atas areal bersejarah pra-Islam. Para sejarawan kerap menghubungkan masjid ini dengan sejumlah tokoh agama yang termasyhur. Lahan yang dibangun masjid tersebut ternyata adalah makam Nabi Yahya AS. Sejarawan Ibnu al-Faqih melaporkan bahwa Zaid Ibnu Al-Waqid, yang memimpin pembangunan masjid menemukan tengkorak Nabi Yahya di dekat sebuah reruntuhan.

Khalifah Al-Walid lalu memerintahkan agar tengkorak Nabi Yahya itu dikuburkan di salah satu dermaga masjid yang kemudian dikenal sebagai Amud al-Sakasik. Sejarawan Harawi pada 1173 M mencatat bahwa tiang marmet berwarna hitam dan putih yang menopang kubah Al-Nasr (kubah di depan mihrah) masjid itu merupakan tahta Bilqis, ratu Saba di era Nabi Sulaiman AS. Menara sebelah timur atau yang biasa disebut sebagai Menara Isa diyakini sebagai tempat akan turunnya Nabi Isa AS. Hingga kini, Masjid Agung Umayyah yang dibangun 14 abad lalu masih berdiri dengan megah dan indah.mr-republika

Memakmurkan Masjid Oleh Muhammad Arifin Ilham

Sudah menjadi tradisi pada setiap awal Ramadhan, masjid penuh oleh jamaah. Tetapi, pertengahan Ramadhan apalagi pengujung Ramadhan berakhir pula makmurnya jamaah di masjid. Padahal, banyak keutamaan berjamaah di masjid yang adalah rumah Allah (lihat QS An-Nur [31] ayat 36), sebelum, selama, atau sesudah Ramadhan.

Allah menyebut mereka yang gemar berjamaah di masjid sebagai kekasih-Nya. Allah berfirman, ''Rumah-Ku di muka bumi adalah masjid, para kekasih-Ku adalah mereka yang memakmurkan rumah-Ku. Barang siapa yang ingin berjumpa dengan-Ku hendaklah ia datang ke rumah-Ku, sungguh wajib bagi tuan rumah menghormati para tamunya.'' (Hadis Qudsi). Karena itulah, azan bukan panggilan muazin, tapi panggilan Allah untuk para kekasih-Nya.

Rasulullah SAW tak pernah lepas dari beribadah di masjid. Ketika beliau sakit menjelang akhir hayatnya, tatkala mendengar azan Bilal, beliau berkata kepada Saidah Aisyah RA, ''Antarkan aku ke rumahku!'' Saidah Aisyah keheranan dan seraya bertanya, ''Bukankah ini rumah engkau wahai kekasih Allah?'

' Rasulullah menjawab, ''Bukan, rumahku adalah masjid.'' pada kesempatan lain beliau bersabda, ''Seandainya umatku mengetahui keutamaan shalat berjamaah di masjid, merangkak pun mereka tetap shalat berjamaah di masjid.'' (Muttafaqun `Alaiha).Masjid adalah juga rumah para malaikat Allah. Dalam hadis riwayat Ahmad ditegaskan, ''Para malaikat itu mendoakan dan mengaminkan doa mereka yang memakmurkan masjid.''

Masjid adalah rumah orang-orang mukmin. Dalam Alquran Surah At-Taubah ayat 18 ditegaskan, ''Sesungguhnya hanya hamba Allah yang benar-benar beriman kepada Allah dan benar-benar beriman pada Hari Akhirat, merekalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah.'' Pada zaman sahabat, salah satu penanda untuk mengetahui orang-orang munafik adalah kondisi masjid di waktu Subuh. ''Orang-orang munafik sangat berat shalat berjamaah di masjid terutama di waktu Subuh.'' (HR Bukhari).

Tanpa Narkoba

Tanpa Narkoba

By Republika Contributor
Nikmatnya Hidup Tanpa Narkoba

Setiap anak cucu Nabi Adam, baik Muslim maupun non-Muslim, tentu sangat menginginkan hidup bahagia. Kebahagiaan yang hakiki memang menjadi dambaan setiap orang. Namun, orang seringkali salah jalan dalam mencari kebahagiaan yang hakiki itu.

Banyak orang mengira bahwa kebahagiaan hakiki itu adalah kehidupan di dunia ini. Karena itu, mereka berlomba-lomba ingin mendapatkannya. Padahal, kebahagiaan hakiki tidak identik dengan kehidupan di dunia ini.

Banyak ayat Alquran yang menjelaskan dan menegaskan, bahwa kehidupan dunia bukanlah kebahagiaan yang hakiki. Dalam QS. Ali Imran, 3: 185, misalnya, disebutkan, "Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." Allah juga berfirman dalam QS. Al-Ankabut, 29: 64, "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."

Lihat juga QS. Al-An'am, 6: 70, 130 dan Al-A'raf, 7: 5, yang menyebutkan, bahwa kehidupan dunia ini hanyalah tipuan belaka. Dan, dalam firman-Nya yang lain, "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (Al-Hadid, 57: 20).

Allah memberi kita resep, agar kita tidak tertipu oleh kehidupan dunia ini; yaitu dengan beriman dan bertakwa kepada Allah, seperti disebutkan dalam ayat Alquran berikut, bahwa, "Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau.

Dan, jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu." (Muhammad, 47: 36). Kehidupan dunia yang digambarkan ayat-ayat Alquran itu bersifat sementara, terbatas, dan tidak langgeng.

Artinya, kebahagiaan hakiki bukan ada di dalam kehidupan dunia ini, tapi di akhirat kelak. Kehidupan di dunia hanyalah ladang beriman dan beramal saleh, agar kita mendapat kebahagiaan hakiki di kehidupan akhirat nanti.

Namun, karena kita tidak mengetahui, kita tertipu dan terperdaya oleh kehidupan dunia yang tampaknya menyenangkan. Dengan berbagai cara, jalan, dan akal, banyak di antara kita ingin meraih kehidupan dunia yang sesaat dan serba instan ini.

Bahkan, mereka berani nekad dan tanpa pikir panjang untuk mewujudkannya. Kalau ada masalah, misalnya, mereka ingin mengatasinya dengan cepat dan masalah hilang hanya sesaat kemudian. Bahkan, cara yang mereka tempuh menimbulkan masalah yang jauh lebih besar.

Contohnya, mereka bernarkoba ria. Ada di antara kita yang mencari kebahagiaan dengan cara berpesta narkoba, yaitu kesenangan sesaat. Bukan kebahagiaan hakiki yang mereka dapat.

Mereka sebenarnya telah menzalimi dirinya sendiri, dan bahkan juga menzalimi orang lain: keluarga, tetangga, dan masyarakat sekitarnya. Narkoba dapat merusak diri sendiri, dan masa depannya.

Produktivitas dan kesehatannya akan terus menurun dari hari ke hari. Mereka telah membuka satu pintu maksiat dan pintu maksiat lainnya akan mudah dibukanya pada hari-hari berikutnya. Dari narkoba akan timbul seks bebas, pencurian, perkelahian, perceraian, pembunuhan, dan berbagai jenis maksiat lainnya.

Kalau semua jenis maksiat itu sudah terjadi di tengah kehidupan kita, yaitu mencari kesenangan sesaat, maka sesungguhnya kita telah jauh dari ajaran agama yang kita anut.

Kita tidak lagi menghormati, menghargai, dan mengamalkan agama kita. Bahkah, kita tidak lagi berislam secara rahmatan lil'alamin. Bagaimana kita bisa menebarkan kasih sayang kepada sesama, sedangkan diri sendiri tidak kita sayangi.

Jadi, narkoba memang termasuk barang yang menikmatkan, tapi hanya di dunia dan sesaat. Pemakai narkoba, seperti saya alami, merasakan kenikmatan segala-galanya. Karena itu, sekali memakai narkoba, kita akan ketagihan dan tidak mau kehilangan nikmat tersebut.

Tetapi sekarang, setelah keluar dari jeratan narkoba, saya merasa lebih nikmat menyongsong kehidupan di akhirat nanti. Kenapa? Sederhana sekali. Kalau ganja yang juga ciptaan Allah, saja dirasa nikmat oleh pemakainya, maka tentu mengenal dan meyakini Penciptanya akan lebih nikmat.

Ada beberapa langkah yang harus kita antisipasi supaya tidak kembali lagi ke narkoba. Seperti yang saya alami, yaitu, berusaha mencari ilmu kebenaran. Saya mempelajari dan memperdalam agama kepada siapa saja. Mengamalkan ilmu agama merupakan langkah pencegahan untuk tidak tergiur kepada kenikmatan narkoba.

Sebab, dalam agama telah banyak dijelaskan tentang perintah dan larangan Allah yang harus kita taati. Termasuk larangan bermabuk-mabukan, seperti narkoba.

Saya juga membiasakan diri untuk rajin ke masjid. Karena, di masjidlah kita akan menemukan ketenangan dan kedamaian. Di masjid kita tidak hanya shalat, tapi juga menjalankan ibadah-ibadah lainnya, baik yang fardu maupun yang sunnah. Dari belajar dan membaca Alquran hingga berzikir kepada Allah.

Selain itu, saya sering pula mendirikan shalat berjamaah. Dengan berjamaah, kita membangun kebersamaan. Ketika kita bersama-sama dalam kebaikan, maka kita akan saling mengingatkan dan menasihati.

Bukankah mendirikan shalat dapat mencegah diri dari perbuatan keji dan mungkar? Saya juga berdakwah, yaitu mengajak sesama manusia untuk menghindar dari larangan Allah, semacam narkoba. Semua langkah ini, saya pikir, dapat membentengi diri untuk tidak mendekati barang haram tersebut. Saya melakukannya dengan sabar dan ikhlas kepada Allah.

Ada pula yang tak kalah pentingnya. Yaitu peran dan motivasi dari lingkungan kita paling dekat. Antara lain keluarga, tetangga, dan kawan-kawan kita. Merekalah yang memotivasi saya untuk tidak lagi terlibat dalam narkoba. Istrinya saya, misalnya, selalu mendorong saya untuk belajar agama. Dialah yang memberi contoh teladan baik kepada saya.

Namun, langkah-langkah ini, menurut saya, masih kurang kuat untuk menghadapi kegagasan penyakit narkoba. Selain langkah-langkah itu, saya selalu berdoa memohon diberi hidayah untuk tidak mengulangi perbuatan haram yang datang dari setan laknat itu.

Doa menjadi motivasi diri untuk tidak mengulangi dan berusaha memperbaikinya di masa-masamendatang. Usaha dan doa inilah yang selalu saya lakukan untuk membentengi diri dari narkoba. Demikianlah janji-janji Allah yang terbukti pada diri saya. Alhamdulillah.

Untuk itu, mulai sekarang, kita harus berani berkata tidak kepada narkoba. Dekatlah kepada Allah. Hidup ini hanya sekali, maka hiduplah yang berarti. Jangan sekali-kali kita mencoba narkoba. Karena, sekali mencicipinya, maka kita akan membuka pintu neraka. Nikmatilah hidup ini dengan iman dan takwa kepada Allah

Islam dan budaya demokratis dalam keluarga

Islam dan budaya demokratis dalam keluarga
By Republika Contributor
Islam dan Budaya Demokrasi dalam Keluarga Demokrasi sering diidentikkan dengan Barat. Salah satu sistem politik ini awalnya tumbuh dan berkembang di dunia Barat. Dalam sejarah perkembangannya, demokrasi menembus masuk ke berbagai negara di seluruh penjuru dunia. Termasuk pula di Indonesia. Kultur demokrasi, yang diuraikan dalam konsepsi "kerakyatan", "kekeluargaan", dan "gotong royong" sebenarnya telah dimiliki oleh masyarakat Indonesia, termasuk pula kaum muslimin. Unsur-unsur demokrasi itu bisa kita lihat di dalam sistem dan kehidupan masyarakat pedesaan di Jawa.

Kalau kita telusuri, di dalam demokrasi khas Indonesia itu terkandung makna sifat "gotong royong", cara-cara kekeluargaan dalam mengurus sesuatu, atau "musyawarah untuk mufakat". Unsur-unsur demokrasi Indonesia ini dirumuskan dalam salah satu sila Pancasila, yang telah disepakati oleh para pendiri negara kita ini, yaitu "Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan." Sila inilah yang tampaknya menjadi asas dasar demokrasi Indonesia. Di dalam sila keempat Pancasila itu terdapat kata "permusyawaratan", yang berasal dari kata bahasa Arab, yaitu syuuraa atau musyaawarah. Karena itu, tidak heran bila demokrasi sering diasumsikan dengan kata syuuraa atau musyaawarah, sekalipun ada beberapa perbedaan antara kedua konsep tersebut.

Musyawarah dalam Alquran

Syuuraa atau musyaawarah merupakan hal penting bagi kehidupan manusia, khususnya kaum muslimin. Bahkan, karena pentingnya, kata syuuraa menjadi salah satu nama surat Alquran, yaitu surat ke-42. Di dalam Alquran, masalah musyawarah disebut pada tiga ayat. Pertama, kita bisa lihat dan baca pada QS 'Ali 'Imraan [3]: 159. Dalam ayat Alquran ini, Allah berfirman, "..., maka maafkanlah mereka, mohonlah ampunan bagi mereka dan bermusyawarah dengan mereka dalam urusan (tertentu/yang penting), kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah SWT. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya." Kedua, kita bisa simak pada QS Al-Syuuraa [42]: 38.

Dalam ayat ini, Allah berfirman, "Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi, menyambut) seruan Tuhan mereka dan mendirikan shalat (dengan sempurna), sedangkan tentang urusan mereka, mereka memutuskannya dengan musyawarah di antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka." Dan ketiga, kita bisa cermati pada QS Al-Baqarah [2]: 233. Di dalam ayat ini, Allah berfirman dengan tegas, bahwa " ...apabila kedua orangtua (suami dan istri) ingin menyapih anak mereka (sebelum dua tahun) atas dasar kerelaan dan permusyawaratan antarmereka, maka tidak ada atas mereka ...." Ketiga ayat di atas menegaskan, bahwa Islam memiliki cakupan konsep musyawarah. Islam memandang musyawarah sebagai unsur terpenting bagi kehidupan umat manusia, baik sebagai individu, anggota masyarakat, maupun para elite politik.

Khusus tentang ayat ketiga di atas, oleh masyarakat umum, masalah menyapih selalu dianggap sebagai urusan perempuan. Padahal, seperti ditegaskan ayat Alquran itu, persoalan menyapih seorang anak merupakan masalah keluarga yang perlu dimusyawarahkan antara suami dan istri. Menyapih berkaitan langsung dengan hak anak. Dalam masalah menyapih ini, baik anak, ibu, maupun ayah, tidak ada yang boleh menjadi korban. Dalam ayat sebelumnya disebutkan, sang ibu tidak boleh menderita karena anak, dan sang bapak juga tidak boleh menderita karena anak. Jadi, tujuan musyawarah dalam keluarga, seperti diisyaratkan dalam ayat Alquran tentang menyapih itu, adalah untuk menghindari jatuhnya korban di antara anggota keluarga.

Ayat Alquran itu memberi jalan keluar bagi orangtua, terutama suami dan istri, yang sedang menghadapi masalah, khususnya masalah menyapih anak, di dalam keluarga, yaitu dengan jalan musyawarah. Musyawarah ditujukan untuk mencari formulasi terbaik jangan sampai ada yang dirugikan. Intinya, semua persoalan yang dihadapi orangtua, terutama di dalam keluarga, harus dibicarakan dan dicarikan solusinya untuk mendapatkan keputusan yang terbaik. Musyawarah seharusnya menjadi landasan pokok dalam membina kehidupan berkeluarga. Musyawarah dan permufakatan ditujukan untuk menjalin kerjasama dalam kebaikan dengan semangat persaudaraan, bukan semangat kalah dan menang.

Unsur demokrasi

Hal-hal lain yang perlu ditekankan atau ditanamkan di dalam kehidupan keluarga-yang berkaitan dengan demokrasi atau musyawarah, adalah penegakan keadilan. Berbuat adil, yang sering diidentikkan dengan persamaan atau keseimbangan, merupakan salah satu unsur demokrasi. Di dalam masyarakat modern, terutama keluarga masa kini, persamaan atau berbuat adil tidak bisa diabaikan. Demokrasi mengajarkan kepada kita tentang persamaan pada seluruh anggota keluarga. Tidak ada yang memegang hak mutlak. Tidak ada yang otoriter. Tidak ada yang bersikap tiranik. Demokrasi itu dapat dipastikan menolak elitisme. Tidak ada yang boleh berkuasa terhadap pihak lain. Semuanya sama sebagai manusia. Bahkan, dalam soal pernikahan pun seorang gadis tidak bisa dipaksakan. Istilah wali mujbir juga tidak bisa digunakan sewenang-wenang.

Selama ini kita sering melihat adanya kesewenang-wenangan orangtua, khususnya sang bapak untuk memaksakan anak gadisnya menikah dengan orang yang tidak disukai anaknya. Istilah wali mujbir menjadi landasan pegangan untuk memaksa anak gadisnya menikah dengan orang yang tidak dicintainya. Pemaksaan pernikahan semacam ini tentu saja keluar dari koridor praktik demokrasi. Padahal, limabelas abad lalu, Nabi Muhammad telah memerintahkan agar kita berbuat adil kepada sesama manusia, sekalipun kepada anak-anak kita di dalam keluarga. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Al-Thabrani, Rasulullah menyebutkan agar kita menyamakan anak-anak kita dalam hal pemberian, misalnya memberikan hadiah. Kita tidak boleh membeda-bedakan antara anak laki-laki dan anak perempuan.

Kalau kita mau memberi hadiah lebih, maka kita sebaiknya memberikannya kepada anak perempuan. Persamaan yang diperintahkan Nabi ini tidak hanya berhubungan dengan soal pemberian hadiah, tapi juga dalam hal pendidikan, pelayanan kesehatan, dan sebagainya. Di samping itu ada juga hal lain yang kita kira perlu ditanamkan dalam keluarga. Yaitu, bagaimana keluarga menjadi ajang penyemaian pada anggotanya untuk menghargai pluralitas. Sebab, dari keluargalah, kita bisa memulai segala sesuatu. Di dalam keluarga terdapat macam-macam karakter yang berbeda-beda. Karena itu, dapat dipastikan, bahwa keluarga kita berbeda dengan tetangga. Pluralitas semacam ini perlu ditanamkan dalam keluarga sejak dini mungkin, sehingga bangunan demokrasi dapat terwujud melalui budaya demokrasi di dalam keluarga kita.

Praktik demokrasi

Dalam menerapkan demokrasi dalam keluarga, kita biasanya memberikan kepada anak-anak kita sesuatu yang sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. Kita juga perlu menerapkan kepada anak-anak kita untuk melaksanakan segala kewajiban mereka sesuai dengan usia mereka. Penanaman demokrasi di dalam keluarga seperti ini merupakan cara yang baik untu dilanjutkan. Demokrasi itu bukan suatu kebebasan yang tanpa aturan, tetapi bebas bertanggung jawab. Kita tidak bisa berbuat sebebas-bebasnya.

Anak-anak kita boleh saja secara bebas melakukan sesuatu, tetapi mereka tidak boleh melampaui kebebasan. Apa yang anak-anak kita lakukan di dalam keluarga harus dimintai pertanggungjawabannya. Karena itu, budaya demokrasi dalam Islam menghendaki adanya acuan pada nilai-nilai islami. Bukan semata-mata maunya sendiri. Kita tidak boleh memberikan kebebasan kepada anak-anak kita bila melampaui dari acuan islami. Praktik demokrasi di dalam keluarga tidak bisa lepas dari ajaran-ajaran agama (Islam). Wallahu a'lam.